ISLAM, KEMBALINYA PERADABAN YANG HILANG
Seperti opini yang di tulis Oleh: M. Affian Nasser di terbitkan di media tempo (Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)Ziauddin Sardar pernah mengatakan “Different Civilizations have produced distinctively different sciences” bahwa peradaban yang berbeda telah menghasilkan ilmu pengetahuan yang berbeda.
Di era globalisasi ini pandangan pemuda-pemuda muslim lebih condong menjadikan pemikiran barat sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari hal ini tentunya di sebabkan karena doktrin dari literatur yang mereka pelajari, lantas muncul di benak kita seperti apa pemuda yang akan mengembalikan peradaban yang hilang itu? Kalau kita meneropong historis dari pemimpin muda seperti pada masa ke khalifahan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Murad 2 atau di kenal dengan Muhammad al-Fatih merupakan pemimpin atau raja yang berusia sangat muda menurut catatan sejarah ia baru berumur 21, pemimpin yang mampu merealisasikan hadis nabi muhammad. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (pemimpin) adalah amir yang memimpin penaklukannya, dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari).
Seperti yang kita ketahui bahwa hadis merupakan tolak ukur perbuatan, dasar hukum dan juga pentunjuk dari baginda nabi Muhammad Saw. Kembali meneropong hadis yang menyatakan bahwa “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya.Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam,” (HR. Imam Ahmad).
Dari hadis ini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa umat Islam akan melewati beberapa fase yang antaralain secara singkat fase kenabian, fase khilafatan nubuwah, fase kerajaan, fase kediktatoran (pemimpin pemaksa) dan yang terakhir adalah fase khilafatan al-minhaj nubuwah atau Khalifah yang berjalan di atas kenabian. Dari bebarapa fase tersebut umat Islam tentunya telah melewatinya, yang terjadi saat ini mungkin kita dapat saksikan di media bagaimana umat di itimidasi seperti yang terjadi di Rohingnya, India dan juga palestina Islam dia anggap sebagai agama yang radikal bahkan menjadi musuh bagi pemerintah. Kadiktatoran pemerintahan dalam menjalan tugas sebagai pemimpin secara otomatis bisa kita baca bahwa umat muslim berada pada fase kediktatoran(pemimpin pemaksa).
Perealisasian terhadap pengembalian peradaban Islam yang bertahun-tahun hilang ini merupakan hal yang terbilang sulit, akan tetapi hal ini sudah di sebut oleh nabi bahwa
Akan utus seseorang dari garis keturunan kandungku yang akan menyebarluaskan keadilan dan kesejahteraan melalui kemunculannya pada kahir zaman diyakini oleh tiga agama besar serta mayoritas penduduk dunia. Imam Mahdi merupakan pemuda menjadi manusia di tunggu kedatangannya oleh umat muslim.
Selama kekuasaannya memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kebijaksanaan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kedzaliman dan kecurangan. Dia memimpin selama 7 tahun. Hadis ini di riwayatkan oleh abu Daud.
Seperti perealisasian terhadap jatuhnya konstantinopel ketangan umat muslim, begitupun dalam perealisasian terhadap pengembalian peradaban Islam yang hilang, Yang sama-sama tolak ukurnya adalah hadis, kepemimpinan di masa imam merupakan kepemimpinan di mana akan menjadi harapan kembalinya peradaban Islam yang dianggap telah hilang Wallahu A’lam.