Sejarah Penobatan Karaeng Di Jeneponto
Kata Karaeng dalam kamus besar bahasa Indonesia di kenal sebagai orang yang memiliki garis keturunan dari seorang bangsawan gelar Karaeng merupakan gelar yang sangat lumrah di kalangan orang-orang Makassar penulis akan mencoba menguraikan lokasi atau tempat penobatan para Karaeng di masa dahulu silam hal ini dapat di buktikan dengan berbagai macam observasi dari tokoh pendahulu yang sekarang masih hidup, salah satu tokoh sejarah yang banyak mengetahui Selak beluk tempat penobatan para Karaeng atau warga setempat mengenalnya dengan gelar Butta gallarrang merupakan tanah atau tempat di nobatkan ya calon Karaeng, lokasi tersebut berada di romanga hutan kareloe yang ada di dusun Surulangi desa kareloe kecamatan bontoramba.
Salah satu tokoh bernama Lolo yang di abadikan oleh pemuda yang bernama Nawir mengukapkan bahwa dahulu ketika akan di adakan pemilu, terlebih dahulu Colon atau kandidat di bawah ke hutan untuk di periksa ciri fisiknya, pasalnya di pinggir hutan belantara tinggal seorang guru atau ahli kalau masa sekarang di sebutnya, ada tiga karakteristik atau ciri fisik seorang pemimpin yang yang membawa kesejahteraan rakyat
1. telinganya lebar
Lebar di sini maksudnya ialah ia siap mendengarkan masukan dari dari baik rakyat yang dalam keadaan susah maupun keadaan senang.
2. Leher nya panjang.
Lehernya panjang bermakna calon pemimpin tidak suka memakan makanan yang sifatnya haram maupun makan secara sendiri kehidupan Tidak memperhatikan rakyatnya.
Terus akan muncul pertanyaan kurang lebih seperti ini, mengapa lokasi penobatan Karaeng di Jeneponto itu di laksanakan di hutan belantara, pasalnya dahulu di masa penjajah Belanda dan Jepang hutan kareloe menurut para ahli merupakan hutan yang terbilang anker tak satupun penjajah mampu menemukan penduduk pribumi jika sudah masuk di hutan tersebut, bahkan artefak batu yang tersusun rapi di hutan kareloe berbentuk bulat masih sangat utuh dan bisa di buktikan dengan mata kepala.
3. Perutnya Sedang
Perutnya Sedang maksudnya di sini ialah ia tidak suka makan harta milik rakyat, tidak hanya memperhatikan dirinya sendiri tapi seorang pemimpin harus juga memperhatikan kehidupan rakyatnya.
Terus akan muncul pertanyaan kurang lebih seperti ini, mengapa lokasi penobatan Karaeng di Jeneponto itu di laksanakan di hutan belantara, pasalnya dahulu di masa penjajah Belanda dan Jepang hutan kareloe menurut para ahli merupakan hutan yang terbilang anker tak satupun penjajah mampu menemukan penduduk pribumi jika sudah masuk di hutan tersebut, bahkan artefak batu yang tersusun rapi di hutan kareloe berbentuk bulat masih sangat utuh dan bisa di buktikan dengan mata kepala.
Penulis : Sultan Alaudin
.