Selasa, 08 Maret 2022

KHITTAH PERJUANGAN SEBAGAI BASIS KEBUDAYAAN ISLAM


Khittah Perjuangan HMI merupakan dokumen yang menggambarkan konsepsi ideologis sebagai upaya kader memberi penjelasan tentang cara pandang HMI mengenai semesta eksistensi yang wajib diakui, kebenaran yang wajib diperjuangkan, jalan hidup yang wajib dijunjung tinggi, cita-cita yang perlu diraih, dan nilai-nilai yang mengikat atau menjiwai kehidupannya secara individual maupun sosial.

Muatan khittah perjuangan, dengan demikian, merupakan penjabaran konsepsi filososfis azas, tujuan, usaha dan independensi. Azas menjelaskan landasan keyakinan HMI tentang ketuhanan, kesemestaan, kemanusiaan dan kemasyarakatan, semangat perjuangan dan hari kemudian sebagai konsepsi cita-cita masa depan kehidupan manusia. Keyakinan tersebut merupakan akar dari segenap perbuatan manusia untuk penyempurna sebagai insan kamil atau cita ulil albab dalam tujuan HMI.

Keyakinan dalam Islam tertuang dalam prinsip tauhid yang mengingkari segenap penghambaan, ketundukan dan keterikatan kepada hal-hal yang menyebabkan hilangnya kesempatan penyempurnaan menuju kadekatan tertinggi di hadapan Allah SWT. Keyakinan ini tidak dipahami secara dogmatis melainkan dibenarkan oleh kesadaran yang sejernih-jernihnya (Khittah Perjuangan).


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, budia atau akal (“pengertian budaya menurut para ahli, jangan keliru memaknainya”. Liputan 6. 11 januari 2019. Diakses tanggal 20 juli 2021) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa latin yaitu cultura.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia (Tubbs, Stewart L; Moss, Sylvia (2000). Human communication: konteks-konteks komunikasi. Diterjemahkan oleh Mulyana, Deddy. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. ISBN 979-514-5789. OCLC 975153443).

Wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga; Pertama, gagasan (wujud ideal). Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak yaitu tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam pemikiran masyarakat. Kedua, aktivitas (tindakan). 

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial, yaitu terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Ketiga, artefak (karya). Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan dan karya semuan manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan (Eviyanti, Sari (20 juni 2013). TAMAN BUDAYA KALIMANTAN TENGAH (Thesis). Universitas Atma Jaya Yogyakarta. http://e-journal.uajy.ac.id/2374).

Budsys juga merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya yang turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia (Mulyana, Deddy; Rakhmat, Jalaluddin (2009). Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm. 25. ISBN 979-514-782-X.OCLC 953657615).
Jika kita sepakat bahwa budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi, maka sesungguhnya khittah perjuangan merupakan kebudayaan islam itu sendiri. Mengapa? Karena muatannya sangat kompleks dan sarat akan nilai-nilai tauhid. Bukankah setiap nabi yang diutus oleh Allah SWT tidak lain hanya untuk mengajarkan tauhid kepada manusia, yang kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw melalui ajaran islam dan diwariskan kepada kita semua untuk dijadikan pedoman hidup agar kita benar-benar menjadi khalifah Allah di muka bumi.
.
Khittah perjuangan memiliki empat bab, yaitu asas, tujuan, usaha dan independensi. Keempat bab ini pun masing-masing memiliki pembahasan. Misalnya yang pertama adalah asas, membahas tentang keyakinan muslim, wawasan ilmu, wawasan sosial, kepemimpinan, etos perjuangan dan hari kemudian. Kedua, tujuan, membahas tentang hakekat tujuan HMI serta hakekat perkaderan dan perjuangan. Ketiga, usaha, membahas tentang amar ma'ruf, nahi munkar, pembentukan individu dan pembentukan masyarakat. Keempat, independensi, membahas tentang sifat independen HMI dan sikap independen kader HMI. Tentunya kesemuanya ini adalah satu-kesatuan sekaligus ajaran tauhid itu sendiri.

Sebagai sebuah paradigma gerakan yang sarat akan nilai-nilai tauhid, khittah perjuangan pertama-tama berbicara tentang keyakinan muslim. Mengapa? Karena keyakinan merupakan dasar dari setiap gerak dan aktivitas hidup manusia. Keyakinan itu akan melahirkan tata nilai, guna menopang hidup dan budayanya. Karena itu manusia secara fitrah membutuhkan keyakinan hidup yang dapat menjadi pegangan dan sandaran bagi dirinya. Tetapi, sebuah keyakinan dianut bukan hanya karena dia kebutuhan, melainkan juga keyakinan itu merupakan kebenaran. Demikian pula cara berkeyakinan harus pula benar. Menganut keyakinan yang salah bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya.

Pada dasarnya ada dua sistem keyakinan. Pertama, sistem keyakinan yang obyeknya didasarkan kepada sesuatu yang nyata. Kebenaran diukur melalui indra dan pengalaman. Sistem ini disebut kebenaran ilmiah. Secara filosofis kebenaran ilmiah memiliki kelemahan karena ia tidak dapat menjelaskan sisi kehidupan yang berada di luar pengalaman indrawinya. Kedua, sistem keyakinan yang didasarkan pada doktrin literal. Sistem ini dapat ditemukan dalam semua agama. Pada dasarnya, sistem keyakinan literal mengingkari arti pentingnya akal sebagai sarana verifikasi kebenaran. Baginya, kebenaran adalah sesuatu yang sudah jadi secara sempurna dan harus diterima tanpa perlu menyadarinya terlebih dahulu. Termasuk dalam kategori ini adalah keyakinan yang didasarkan pada kebiasaan budaya yang diwarisi dari nenek moyang yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Islam mengajarkan sistem keyakinan yang disebut tauhid. Tauhid berbeda dengan dua sistem keyakinan di atas karena cara pandangnya terhadap eksistensi. Tauhid merupakan konsepsi sistem keyakinan yang mengajarkan bahwa Allah SWT adalah zat Yang Maha Esa, sebab dari segala sebab dalam rantai kausalitas. Ajaran tauhid membenarkan bahwa manusia dibekali fitrah yaitu suatu potensi alamiah berupa akal sebagai bekal untuk memilih sikap yang paling tepat serta untuk mengenali dan memverifikasi kebenaran dan kesalahan secara sadar. Tauhid yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang dijanjikan Allah, dinyatakan dalam dua kalimat syahadat, yaitu; Asyhadu an lâ ilâha illallâh, Wa asyhadu anna Muhammadan Rasûlullâh. Artinya, aku bersaksi bahwasanya tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah rasul Allah.

Selain keyakinan muslim, di dalam asas, juga dibahas tentang wawasan ilmu yang mengajak kita kepada kesadaran bahwa Allah SWT sebagai sumber kebenaran yang membekali kita instrumen pengetahuan berupa hati dan akal agar kita mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui kejadian diri manusia dan alam. Wawasan sosial yang mengajarkan kita akan kepedulian kepada orang-orang di sekitar kita agar tidak terjadi penindasan. Karena sejatinya penindasan itu terjadi disebabkan sikap ketidak pedulian. Kepemimpinan yang memberikan penjelasan bagaimana kita menjadi seorang pemimpin. Etos perjuangan yang memberikan penjabaran bahwa iman tidak hanya diukur atas berapa banyak shalat yang dikerjakan atau berapa banyak zakat yang dikeluarkan atau berapa lama puasa yang dilakukan dan berapa banyak ibadah haji yang ditunaikan. Namun iman juga diukur dengan seberapa lama dan seberapa kuat manusia berjuang mewujudkan kebenaran dalam masyarakat demi kemaslahatan umat manusia. Dan yang terakhir adalah hari kemudian yang memberikan pencerahan bahwa segala kebaikan dan keburukan akan dibalas di akhirat kelak.

Pada bagian kedua, khittah perjuangan berbicara tentang tujuan HMI. Sejatinya tujuan HMI adalah terbinanya mahasiswa menjadi insan ulil albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala. Untuk mengukur bahwa hal ini telah berhasil atau tidak, maka kita dapat melihat dari tanda-tandanya, yaitu hanya takut kepada Allah, tekun beribadah tiap waktu, bersungguh-sungguh mencari ilmu, mampu mengambil hikmah atas anugerah Allah SWT, selalu bertafakur atas ciptaan Allah SWT yang ada di langit dan di bumi, mengambil pelajaran dari sejarah dan kitab-kitab yang diwahyukan oleh Allah SWT, kritis dalam mencermati berbagai pendapat, mampu memilih yang benar dan yang terbaik, tegas dalam mengambil sikap dan pemihakan atas pilihannya, tidak terpesona atas pandangan mayoritas yang menyesatkan, dakwah dengan sungguh-sungguh kepada masyarakat dan bersedia menanggung segala resikonya, adanya semangat Rabbaniyah atau Rabbiyah yang terformulasikan dalam konsep tauhid, tegaknya keadilan yang bersendikan keteguhan pada hukum, adanya sistem amar ma’ruf nahi munkar dalam sistem sosial masyarakat, memiliki semangat keterbukaan dengan selalu berprasangka baik, menjunjung tinggi sikap musyawarah dan sikap egaliter dalam suasana persamaan hak dan kewajiban, memiliki semangat persaudaraan, saling memahami, toleransi, saling menasehati dan tolong menolong, serta tumbuhnya sikap untuk tidak selalu merasa benar atau tidak adanya klaim kebenaran.

Sedangkan bagian ketiga berbicara tentang usaha. Pada bagian ini, khittah perjuangan memulai bahasannya dari amar ma'ruf, yaitu sebuah sikap untuk menunjukkan bahwa saya telah bersyahadat dan kamu sekalian harus mengetahui bahwa syahadat adalah titik keberangkatan atas sebuah keimanan, maka bersyahadatlah. Syahadat tidak hanya diucapkan hanya melalui lisan semata, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Maka sebagai pembuktiannya, khittah perjuangan melanjutkan dengan nahi munkar, yaitu mencegah kemungkaran; menghilangkan penyakit hati, tidak mencegah diri dan orang lain terhadap suatu kebaikan yang akan dibuat, dan aktif dalam mendamaikan setiap perselisihan yang muncul serta menjaga dan meneruskan nilai-nilai kenabian dan kerasulan yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Kemudian pembentukan individu, yaitu mu'abbid, mujahid, mujtahid serta mujaddid. Dan yang terakhir pada bagian ini yakni pembentukan masyarakat yang diawali dengan pembentukan diri, karena pembentukan diri otomatis pembentukan masyarakat pula, proses diri akan melahirkan proses komunitas dalam lingkungan diri tersebut.

Akhirnya sampailah kita pada pembahasan terakhir, yaitu independensi. Sifat independen HMI sejatinya merupakan pernyataan sikap terhadap semua kebenaran dari Allah SWT, memperjuangkan tanpa mengenal lelah dan siap menerima resiko perjuangan, memihak kepada siapapun yang juga memihak dan memperjuangkan nilai kebenaran, dan akhirnya semata-mata menggantungkan diri kepada Allah SWT dalam segala urusan. Sebaliknya, HMI menolak semua nilai kebathilan dan menolak segala bentuk kerja sama dengan pihak-pihak yang menghidupkan kemungkaran di muka bumi. Sedangkan sikap independen kader HMI yakni cenderung kepada kebenaran, merdeka, kritis, jujur, progresif, dan adil. Dengan demikian kader HMI adalah orang-orang yang sanggup berlaku dan berbuat secara mandiri dengan keberanian menghadapi resiko. Ini menuntut adanya kemampuan dari setiap kader HMI, sehingga mereka dapat mempengaruhi masyarakat dan mengarahkan sistem kehidupan manusia ke arah yang dikehendaki Islam.




Oleh : Tasbih Ali




0 comments:

Posting Komentar

TEMPAT PENGADUAN

MAHASISWA ID

BLOG INI BERISI INFORMASI MAUPUN TULISAN KARYA MAHASISWA, BLOG INI AKUN MILIK PRIBADI SULTAN ALAUDIN.

ALAMAT:

SAMATA, KABUPATEN GOWA, SULAWESI SELATAN

JAM KERJA:

SENIN-JUMAT

NOMOR TELEPON WA:

085756911665

alaudinsultan3@gmail.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

ALUR CERITA BLACKHAT

  Alur Cerita Blackhat Pertama di Los Angeles dimana hatway   dan tim mencoba mengungkap keberadaan si hacker, headway bersama Lien mendat...